Minggu, 26 November 2017

Dina Rahmawati

NAMA                        : Dina Rahmawati
NIM                : 16410089
KELAS                        : Psikologi Kognitif “D”
PEMBENTUKAN KONSEP, LOGIKA dan PENGAMBILAN KEPUTUSAN
       Berpikir adalah proses yang membentuk representasi mental baru melalui transformasi informasi oleh interaksi kompleks dari atribusi mental yang mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran, pemecahan masalah logis, pembentukan konsep, kreativitas, dan kecerdasan. Ada tiga ide dasar tentang berpikir: (1) Berpikir adalah kognitif yang terjadi secara “internal” dalam pemikiran, namun keputusan diambil lewat perilaku. (2) Berpikir adalah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif. (3) Berpikir bersifat langsung dan menghasilkan perilaku yang “memecahkan’ masalah atau langsung menuju pada solusi.
Pembentukan Konsep
       Pembentukan konsep berhubungan dengan pengasahan sifat-sifat yang sesuai dengan kelas objek atau ide. Pembentukan konsep yang digunakan lebih kecil cakupannya dari pada berpikir dan mudah untuk dipelajari secara eksperimental bahwa ada pengetahuan yang dapat dipertimbangkan dengan hukum dan proses pembentukan konsep. Definisi awal konsep adalah penggambaran mental, ide, atau proses. Ini secara normal tersingkap melalui metode instropeksi eksperimen yang telah secara luas diterima sebagai teknik utama psikologi. Konsep didefinisikan dalam ciri-cirinya adalah karakteristik suatu objek atau kejadian yang juga merupakan karakteristik objek atau kejadian lain.
            Asosiasi (asosiasisme) merupakan teori tertua dan paling berpengaruh dalam pembentukan konsep. Pembelajaran konsep adalah hasil dari : (1) Menguatkan pasangan tepat dari sebuah stimulus, dengan respon yang mengidentifikasikan sebagai konsep. (2) Non-penguatan (bentuk hukuman) pasangan yang tidak tepat dari sebuah stimulus dengan respon untuk mengidentifikasikannya sebagai konsep.
            Pendapat umum menegnai pengujian hipotesis bahwa orang terkadang memecahkan masalahnya dan membentuk konsep dengan memformulasikan dan menguji hipotesis yang telah muncul dalam psikologi eksperimen. masing-masing partisipan boleh memilih subtipenya: (a) Pemindaian stimulant yaitu mulai dengan seluruh hipotesis dan mengeliminasi yang tak dapat dipertahankan. (b) Pemindaian berturut-turut yaitu mulai dengan hipotesis tunggal, mengembangkannya jika berhasil dan jika tidak berhasil, dapat menggantinya dengan hipotesis lan berdasarkan pengalaman sebelumnya. (c) Pemusatan konservatif yaitu memilih kejadian positif sebagai fokus, lalu membuat urutan penyusunan kembali.
            jadi, tahap awal dalam pembentukan konsep ini yakni memilih hipotesis atau strategis yang konsisten dengan objek penyelidikan.
Logika
       Logika yakni ilmu berpikir. Aristoteles memperkenalkan sistem penalaran atau validasi argument yakni silogisme. Silogisme ini memiliki 3 langkah : Premis mayor, Premis minor, dan Konklusi. Konklusi diperoleh ketika penalaran silogistik diakui valid, jika premis-premisnya akurat dan bentuknya benar.
            Penalaran Deduktif dan Silogistik dalam hal ini ada 4 kemungkinan di dalamnya (Johnson-Laird. 1995) yaitu (1) Kesimpulan relasional berdasarkan perangkat logis dari hubungan sebagai lebih dari, di sebelah kanan, dari, dan setelah. (2) Kesimpulan preposisional berdasarkan negasi dan dalam koneksi seperti jika, atau, dan. (3) Silogisme berdasarkan pasangan premis yang masing-masing berisi pemberi sifat tunggal seperti seluruh atau sebagian. (4) Menjumlahkan kesimpulan kuantitatif berdasarkan premis yang berisi lebih dari satu kesimpulan.
            Penalaran Silogistik di dalamnya terdapat Bentuk, Atmosfer, dan Isi. Bentuk adalah bentuk dasar salah satu cara untuk memecahkan silogisme dengan menggambar diagram venn. Atmosfer adalah kecenderungan untuk menerima atau menolak suautu argument berdasarkan bentuknya. Perbedaan dalam memasangkan anggota A dan B akan menciptakan atmosfer berbeda dan ujungnya kesimpulannya pun berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung menarik kesimpulan dalam permasalahan silogistik berdasarkan gambaran internal yang pertama kali terbentuk mengenai premis , dan terkadang gambaran yang tidak sebenarnya. Isi dalam silogistik dapat mempertahankan bentuk argument sambil mengubah-ubah isinya.

Pengambilan Keputusan
            Penalaran Induktif adalah salah satu bentuk lain dari penalaran. Dalam penalaran induktif sebuah kesimpulan biasa dinyatakan secara implisit atau eksplisit dalam konteks pernyataan kemungkinan.
            Pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari atau nyata, kita bisa membuat keputusan yang tidak terlalu mencerminkan hasil paradigma silogistik yang sudah dipikirkan baik-baik, tapi dalam konteks penlaran induktif, yang keputusannya berdasarkan pengalaman masa lalu dan kesimpulannya berdasarkan yang dirasa sebagai pilihan terbaik dari sejumlah alternative. Jadi, dalam mengambil keputusan kita memilih alternative dengan cara mengeliminasi pilihan yang kurang menarik secara bertahap(eliminasi oleh aspek).
            Percakapan/dialogue Penalaran dalam kehidupan, manusia biasa masuk dalam perakapan yang melibatkan argumentasi. Mengidentifikasi komponen structural pokok argument (Rips, dkk , 1999).
            Kekeliruan Reifikasi. reifikasi suatu ide itu menganggap bahwa ide itu nyata padahal sebenarnya ide tersebut bersifat hipotesis atau metafora.contoh “ seorang mahasiswa yang kesulitan menyelesaikan S2, berkata padaku “Universitas ini tidak mau memberiku gelar!” Dia menganggap bahwa Universitas bertindak seperti individu padahal kenyataanya tidak seperti itu. namun karena adanya alasan yang masuk akal yang membuatnya tidak bisa memberi gelar. Ciri utamanya ada ciri yang difokuskan dan dipentingkan untuk mengalihkan tujuan utama argument. Beberapa argument diantaranya:
1.      Argumen ‘Ad Hominem’  yakni argument yang menyerang karakter seseorang dan bukan isi argumennya. argument yang disahkan berdasarkan pengalaman seseorang atau pengetahuan yang didapat dari seseorang.
2.     Argumen yang Menggunakan Paksaan dan Kekuatan yakni yang mempertimbangkan kekuatan dan tenaga.
3.     Mempertimbangkan Wibawa/kekuasaan atau Ketenaran
4.     Argumen Mayoritas-Pasti-Benar yakni jika banyak orang yang melakukan sesuatu maka hal itu pasti benar.
5.     Argumen Manusia Jerani yakni membangun suatu argument yang lemah dan menghubungkannya dengan orang lain sehingga bisa mengalahkannya.
            Dukungan Neurosains Kognitif Desain untuk melihat apakah seseorang bisa menemukan peraturan awal dari pembentukan konsep dan cukup fleksibel untuk mengabaikan peraturan yang telah ditegakkan sebelumnya dan menemukan peraturan baru. Penelitian kemampuan problem-solving pada pasien cedera otak bahwa hasilnya pasien dengan cedera operasi dihemisfer kanan lebih buruk dari pada dengan yang cedera di hemisfer kiri.
            Bingkai Keputusan atau kerangka keputusan adalah konsepsi tindakan, hasil keluaran serta kontingensi pembuat keputusan yang diasosiasikan dengan pilihan-pilihan tertentu. Kerangka diadopsi seseorang saat akan membuat keputusan, dikendalikan oleh formulasi masalah serta norma, kebiasaan, dan karakteristik  personal. Kerangka sangat berperan kuat dalam menentukan kesimpulan yang dicapai individu dengan fakta-fakta esensial yang diberikan tapi dalam konteks yang berbeda.
            Memperkirakan Kemungkinan (Probabilitas) itu setiap keputusan berkaitan dengan perkiraan kemungkinan sukses. Penelitian tversky dan Kahneman mengidentifikasikan strategi yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan umum.
            Heuristik Keterwakilan ini yang mempengaruhi dalam mengukur probabilitas kejadian iu dalam hubungan dengan seberapa sama kejadian tersebut dengan ciri esensial populasinya.
            Toerema Bayes dan Pengambilan Keputusan (Thomas Bayes abad 18) menyatakan bahwa model matematika yang menyediakan metode untuk mengevaluasi hipotesis perubahan nilai probabilitas. Probabilitas kondisional yaitu peluang informasi baru adalah benar jika hipotesis-hipotesis tertentu benar. Dan kita cenderung menduga kemungkinan kondisi lingkungan yang lebih konservatif dari pda teori Bayes (Edwards, 1968).
Pembuatan Keputusan dan Rasionalitas

            Pembentukan konsep menunjukkan bahwa keseluruhan makhluk hidup membentuk konsep menggunakan ketentuan rasional. Validitas Sebuah argument dapat ditentukan oleh ketentuan logis, bahkan jika kita dikelabuhi oleh salah satu dari struktur atau isi dari argument yang salah. Menurut subbab pengambilan keputusan ini kita belajar bahwa kaum manusia yang “rasional” pada umumnya bertindak irrasional ketika mengambil keputusan tentang sekumpulan peristiwa yang besar. 

Annisa Trihastuti

Annisa Trihastuti 16410205
Kecerdasan Manusia: Membentuk konsep, logika, dan pengambilan keputusan
          Manusia mempunyai ciri khas unik yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya, yaitu kecerdasan. Dengan kecerdasan manusia mampu berpikir, membentuk konsep, logika bahkan mengambil keputusan.
          Pembentukan konsep berhubungan dengan pengasahan sifat-sifat yang seuai dengan kelas objek atau ide. Dengan membahas topik pembentukan konsep yang berhubungan dengan penglihatan visual.  Dalam pembentukan konsep terdapat beberapa teori yakni asosiasi dan pengujian hipotesis.
          Asosiasi berkaitan dengan prinsip mengendalikan pembelajaran konsep yang merupakan hasil dari menguatkan suatu ikatan yang tepat diantara stimulus dan respon yang mengidentifikasikannya, dan non-penguatan (bentuk hukuman) pasangan yang tidak tepat dari sebuah stimulus.  Selain asosiasi, tahap awal dalam pembentukan konsep adalah memilih hipotesis atau strategi yang konsisten dengan objek penyelidikan kita.
          Logika berbeda dengan berpikir. Logika adalah ilmu berpikir, sedangkan berpikir adalah proses umum untuk menentukan sebuah isu dalam pikiran. Terdapat dua bentuk penalaran, takni penalaran deduktif dan penalaran silogostik. Kedua ini merupakan bentuk penalaran.
          Dalam penalaran deduktif terdapat 4 kemungkinan , yakni:
1.     Kesimpulan relasional
2.    Kesimpulan proposional
3.    Silogisme
4.    Menjumlahkan kesimpulan kuantitatif

Pada riset awal penalaran silogitik, didasarkan pada laporan dari ungkapan pikiran. Namun terdapat intropeki kekurangan diri yakni bentuk argumen, isi argumen, dan kemajemukan individu partisipan. Dengan menggunakan bentuk atau gambar diagram yang disebut diagram venn, silogisme dapat dipecahkan.

Berbeda dengan efek atmosfer, efek atmosfer adalah kecenderungan untuk menerima atau menolak argumen berdasarkan bentuknya. Mengajukan suatu argumen dengan cara tertentu.  Keterkaitan  mengacu pada bagaimana dua  hal membentuk sebuah hubungan dengan mudah.

Pengambilan Keputusan dalam kehidupan nyata juga didasari beberapa dasar pemikiran. Yang pertama dialog penalaran, yakni percakapan pada diri yang melibatkan argumentasi. Cara menguraikan argumen itu sendiri adalah dengan identifikasi komponen struktural pokok. 
Namun, dalam pengambilan keputusna terdapat beberapa penyebab mengapa seseorang dapat gagal dalam analisis logis:
1.      Reifikasi atau buah pikiran yang menganggap bahwa ide itu nyata dan bersifat hipotesis atau metafora.
Contoh: Sekolah itu tidak memberikanku manfaat
2.    Argumen Ad Hominem adalah argumen yang berkaitan untuk menyerang karakter seseorang dan bukan berfokus pada isi argumennya.
Contoh: kandidat politisi yang didebat karena sikapnya, bukan karena isi dari materi kandidat politisi itu sampaikan.
3.    Argumen yang menggunakan paksaan
Contoh: menggunakan kekuasaan untuk mengesahkan argumen
4.    Menggunakan kekuasaan dan ketenaran
Menggunakan artis untuk memperkenalkan suatu produk
5.    Agrumen mayoritas-pasti-benar
Semua orang melakukan hal tersebut
6.    Argumen manusia jerami
Memandang argumen sendiri lebih rendah dibanding argumen lain sehingga tidak bisa mengalahkannya.

          

Nurul Ikhwana

PEMBENTUKAN KONSEP dan LOGIKA
Oleh : Nurul Ikhwana (16410177)

Pengertian Konsep
Menurut Hulse, Egeth dan Deese (1981) sebagai sekumpulan atau seperangkat sifat yang dihubungkan oleh aturan-aturan tertentu. Suatu sifat merupakan setiap aspek dari sesuatu objek, atau kejadian  yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan objek atau kejadian yang lain.  Solso (1986) mendefinisikan bahwa konsep menunjukan pada sifat-sifat umum yang menonjol dari satu kelas objek atau ide. Maka, pembentukan konsep adalah suatu proses pengelompokan atau mengklasifikasikan sejumlah objek, peristiwa, atau ide yang serupa menurut sifat-sifat atau atribut-nilai tertentu yang dimilikinya kedalam satu kategori (Martin dan Caramazza, 1980). Misalnya seseorang mengelompokan sebuah meja, kursi,  dan sofa kedalam kategori perabot rumah atau furniture.
Proses pembentukan konsep
Pembentukan konsep merupakan suatu proses penemuan atribbut-atribut atau sifst-sifat penting dan menonjol pada sejumlah objek dan penyimpulan seperangkat aturan berdasarkan atribut-atribut itu (Tennyson, Youngers dan Suebsonthi, 1983; Solso, 1988).
Pembentukan konsep mencakup dua tahapan proses:
a.   Mula-mula seseorang membentuk representasi informasi (di dalam ingatan) mengenai kelas konsep yang diberikan.
b.  Mengembangkan keterampilan kognitif yang dibutuhkan bagi penggunaan informasiyang telah direpresentasikan untuk mengevaluasi dimensi-dimensi khusus, baik kesamaan maupun perbedaan  diantara contoh-contoh baru (Tennyson, Youngers dan Suebsonthi, 1983).

Suatu konsep didefinisikan secara afirmatif atau atributif jika konsep itu memiliki nilai atau sifat khusus pada dimensi tertentu. Hal ini telah banyak dikenal dalam kehidupan sehari-hari misalnya defenisi tentang ”bilangan genap”, yaitu suatu bilangan yang dapat dibagi dua sacara tepat.
Teori pembentukan sikap
Asosiasi
Teori asosiasi menerangkan bahwa belajar konsep  sebagai suatu proses asosiasi respons-respons yang muncul selama belajar dengan contoh-contoh yang mendefinisikan konsep. Solso (1988) mengakatan bahwa model dasar dari belajar asosiasi adalah berprinsip pada hubungan stimulus respons (S-R). Jadi prinsip ini memiliki anggapan dasar bahwa belajar konsep merupakan hasil (1) Penguatan pasangan yang benar mengenai suatu stimulus misalnya kotak merah, dengan respons yang beridentifiksikan sebagai suatu konsep. (2) Tanpa penguatan (seperti bentuk hukuman) terhadap pasangan yang tidak benar tentang stimulus, (misalnya lingkaran merah) dengan respons yang mengidentifikasikanya sebagai suatu konsep.
Pengujian Hipotesis
Teori pengujian hipotesis dalam belajar konsep menekankan bahwa manusia cenderung menyusun dan menguji coba berbagai hipotesis. Menurut Hulse, Egeth dan Deese (1981) diasumsikan bahwa prilaku seseorang senantiasa di bimbing oleh beberapa hipotesis.
Secara umum asumsi-asumsi yang mendasari teori pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
1.  Hipotesis yang dimiliki seseorang dapat mengendalikan prilaku aktualnya.
2. Seseorang mengambil sampel dari serangkaian hipotesis yang tersedia.
3. Proses belajar berlangsung secara keseluruhan, atau tidak sama sekali(all-or-none) (Hayes-Roth, 1977). Menurut pandangan ini, setetelah seseorang mencoba menguji hipotesis yang ternyata benar pada sampel pertama, maka ioa tidak akan lagi membuat kesalahan.
4. Pengambilan sampel ulang dari tempat yang sama lalu diambil lagi sampel dari tempat yang sama sebagai penggantinya. Sebab, diasumsikan bahwa tidak ada memori bagi hipotesis penggantinya, dan pengujian hanya pada satu hipotesis pada suatu saat sehingga hal ini membuat para ahli masi terus mengadakan percobaan guna mengembangkan teori pengujian hipotesis (Ellis dan Hunt, 1993).


FATIHATUN NURIL MUGHNIA

FATIHATUN NURIL MUGHNIA
16410037
Aktifitas kognitif selalu melibatkan berbagai proses-proses penting meliputi belajar, asosiasi, dan pengujian hipotesis.
Berpikir adalah proses internal yang membentuk representasi mental baru melalui transformasi informasi oleh interaksi kompleks dari atribusi mental yang mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran, pemecahan masalah logis, pembentukan konsep, kreativitas, dan kecerdasan. Proses berpikir ini juga dapat diarahkan dan menjadi fokus utama dalam pengambilan keputusan serta menghasilkan formasi dari representasi mental dalam pengambilan keputusan pada level struktural.
Konsep formasi melibatkan bentuk yang tajam untuk mengklasifikasikan objek dan pencarian tata cara yang relevan dengan konsep tersebut.  Nah, pembentukan konsep ini bergantung pada pengasahan sifat-sifat yang sesuai dengan kelas objek atau ide atau lebih spesifiknya akan menjurus pada ciri konseptualnya.
Dalam deskripsinya konseptual diartikan sebagai proses yang digunakan untuk menentukan deteksi signal, yang mana pada penerimaannya sebagai ciri sebuah konsep ditentukan oleh kakunya kriteria. Penentuan kriteria ini juga dapat dikatakan sebagai penentuan objek tertentu.
Asosiasisme atau sering disebut dengan prinsip asosiasi merupakan teori yang sangat berpengaruh dalam pembentukan konsep. Dalam format ringkas, prinsip memegang ikatan yang akan terbentuk di antara kejadian (atau objek) setiap saat dimunculkan bersama kembali. Reinforcement (penguatan), atau sistem hadiah, dapat memfasilitasi bentuk dari ikatan.
            Jadi, prinsip asosiasi mendalilkan bahwa pembelajaran konsep adalah hasil dari (1) menguatkan pasangan tepat dari sebuah stimulus dengan respons yang mengidentifikasikannya sebagai sebuah konsep (2) non-penguatan (bentuk hukuman) pasangan yang tidak tepat dari sebuah stimulus dengan respons untuk mengidentifikasikannya sebagai konsep.
            Strategi untuk formulasi dan pengujian hipotesis selama formasi konsep meliputi scanning dan fokus pada prosedur, dengan fokus pada teknik(hampir sama dengan prosedur ilmiah) yang menjadi lebih efektif daripada strategi scanning.
            Jika berpikir adalah proses umum untuk menentukan sebuah isu dalam pikiran, maka logika adalah ilmu berpikir. Berpikir logika menjadi subjek spekulasi untuk waktu yang lama. Sebuah silogisme mempunyai 3 langkah-sebuah premis mayor, premis minor, dan konklusi.
Konklusi diraih ketika panalaran silogistik diakui kebenran dan kevalidannya ketika premis-premisnya akurat dan bentuknya benar. Konklusi yang tidak logis dapat ditentukan dan sebab-sebabnya terisolasi.
Sebuah ciri dari penggunaan logika  silogistik adalah kemampuannya dalam mengevaluasi dan mengesahkan pembenaran dari proses pikiran berdasarkan bentuknya alih-alih isinya.
Peneltian terkait penalaran deduktif mengindikasikan bahwa kesimpulan silogisme dipengaruhi oleh bentuk presentasi (visual vs verbal), banyaknya alternatif bagi premis umum, bentuk argumen (positif vs negatif), pengetahuan jangka panjang yang berhubungan dengan masalah, dan level inteligensi plobem solver.
  Sedangkan pada penalaran induktif menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa kemungkinan pernyataan dan kesesuaian lebih pada pengambilan keputusan sehari-hari daripada silogisme atau penalaran deduktif.
Pada sebuah penelitian mengenai pengambilan keputusan menunjukkan bahwa solusi untuk masalah dipengaruhi oleh faktor memori (keberadaan hipotesis), referensi sudut pandang yang mempengaruhi formulasi masalah, kegagalan untuk menyadari seberapa samakah sebuah kejadian pada populasinya, dan meremehkan signifikansi matematis dari kejadian yang mungkin.

Tversky dan Kahneman (1981) menjelaskan bahwa kerangka keputuan adalah konsepsi tindakan, hasil keluaran, serta kontigensi pembuat keputusan yang diasosiasikan dengan pilihan-pilihan tertentu. 

Herlina R.A

PEMBENTUKAN KONSEP LOGIKA DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Untuk beberapa orang psikologi kognitif adalah ilmu tentang berpikir dan pemikiran dapat dikatakan sebagai mahkota kognisi. Untuk beberapa orang menjadi sangat brilian, bahkan menjadi amat mulia diantara kebanyakan orang; dan dalam kenyataanya fakta tersebut terjadi, salah satu keajaiban spesies kita. Dalam realitas, “berpikir” merupakan istilah umum dari pemrosesan informasi. Dengan demikian berpikir tentang pemikiran-meta, mungkin menjadi suatu tugas yang sulit ditanggulangi, karena  mengaitkan seluruh tema yang telah kita pelajari sebelumnya—deteksi energy eksternal, neurofisiologi, persepsi, memori, bahasa, perbandingan, dan pribadi yang berkembang.
1.      Pembentukan Konsep
Pembentukan konsep berhubungan dengan pengasahan sifat-sifat yang sesuai dengan kelas objek atau ide. Dalam hal ini kita akan lebih berkonsentrasi dengan ciri konseptual. Definisi awal konsep adalah “penggambaran mental, ide, atau proses”. Konsep didefinisikan dalam ciri-cirinyaa. Ciri-ciri adalah karakteristik suatu objek atau kejadian yang juga merupakan karakteristik objek. Dasar untuk menerima sebuah karakteristik sebagai sebuah ciri adalah subjektif. Jadi, seorang dapat membayangkan sesuatu dengan “ciri kritis” seuah objek atau ide adalah penggunaan sesuai keadaan. Dalam hal ini konseptual mirip dengan proses yang dibutuhkan dalam deteksi signal, yang mana penerimanya sebagai ciri dari sebuah konsep ditentukan oleh kakunya kriteria. Penentuan kriteria adalah seperti menentukan toleransi untuk beberapa banyak ciri yang dibutuhkan untuk dapat menjadi bagian kelas objek tertentu.
a.   Asosisasi
Proses asosiasi mendalilkan bahwa pembelajaran konsep adalah hasil dari (1) menguatkan sesuatu dari sebuah stimulus dengan respons yang mengindentifikasikannya sebagai sebuah konsep, dan (2) non-penguatan (bentuk hukuman) pasangan yang tidak tepat dari sebuah stimulus dengan respons untuk mengidentifikasikannya sebagai konsep.
b.   Pengujian Hipotesis
Tahap awal dalam pembentukan konsep adalah memilih hipotesis atau strategi yang konsisten dengan objek penyelidikan kita. Ketika kita mencari untuk menemukan sesuatu prosesnya meliputi pembentukan prioritas-prioritas.
Partisipan strategi boleh memilih dalam pembentukan konsep untuk menyertakan pemindaian dan pemusatan, masing-masing memiliki subtipenya yaitu pemindaian simultan, pemindaian berturut-turut, pemusatan konservatif dan kemungkinan focus. Dari strategi yang diutarakan, pemfokusan konservatif menjadi paling efektif; teknik memindai hanya memberikan tingkat kesuksesan marginal.
2.      Logika
       Berfikir adalah proses umum untuk menentukan sebuah isu dalam pikiran, sementara logika adalah ilmu berpikir. Walaupun dua orang dapat berpikir tentang hal yang sama, kesimpulan keduanya diraih melalui pemikiran yang mungkin berbeda, yang satu logis, yang lain tidak logis. Berpikir dan logika telah menjadi subjek spekulasi untuk waktu yang lama. Lebih dari 2000 tahun lalu Aristoteles memperkenalkan suatu system penalaran atau validasi argument yang kita sebut silogisme. Sebuah silogisme mempunyai 3 langkah yakni sebuah premis mayor, premis minor, dan konklusi
       Konklusi diraih ketika penalaran silogistik diakui valid atau benar, jika premis-premisnya akurat dan bentuknya benar. Maka, sangat mungkin untuk menggunakan logika soligistik untuk validasi argument. Konklusin yang tak logis dapat ditentukan dan sebab-sebabnya terisolasi. Ini merupakan pernyataan ringkas dasar teori dan banyak reset mengenai pemikiran dan logika.
       Sebuah ciri menarik dari penggunaan logika silogistik dalam penelitian kognitif adalah kemampuannya memungkinkan kita untuk mengevaluasi atau mengesahkan pembenaran dari proses pikiran berdasarkan bentuknya maupun  isinya.
a.    Penalaran Deduktif
            Proses penalaran yang di dalamnya kesimpulan-kesimpulan yang spesifik disusun berdasarkan prinsip-prinsip yang lebih umum atau berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahui sebelumnya.
Deduksi 1) dalam logika tradisional, protes penarikan, dengan penalaran, konklusi tertentu dari prinsip-prinsip umum yang diasumsikan benar. Silogisme Aristoteles adalah contoh klasik dari penalaran deduktif dalam tradisi. 2) dalam logika kontemporer, pernyataan apapun diperoleh dengan sebuah transformasi aturan dalam sebuah aksioma; lebih umum, istilah ini sekarang ditujukan pada sebuah proses mendapatkan teorema dalam aksioma-aksiomanya, atau konklusi dari premis-premis, dengan aturan formal (aturan transformasi).
b.    Penalaran Silogistik
Riset awal untuk mempelajari penalaran silogistik didasarkan pada laporan partisipan dari “apa yang terjadi dalam kepalaku” yang juga diketahui sebagai prosedur “berbicara kera” ketika partisipan mengungkapkan secara verbal langkah yang mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah. Walaupun teknik intropeksi ini kekurangan dasar ilmu empiris yang dibutuhkan, 3 variabel independen telah muncul dari sana: bentuk argument, isi argument, dan kemajemukan individu partisipan.
Bentuk, salah satu cara memecahkan silogisme adalah dengan menggambar diagram yang disebut diagram Venn. Beberapa silogisme lebih sulit dibandingkan yang lain mungkin disebabkan oleh pengetahuan dan kemampuan yang anda miliki untuk mengenali argument yang logis ketika anda menghadapinya.
 Efek Atmosfer adalah kecendurungan untuk menerima atau menolak suatu argument berdasarkan bentuknya. Dengan kata lain, mengajukan suatu argument dengan cara tertentu saja bisa mempengaruhi tingkat penerimaan argument itu.sebuah studi menarik pernah dilakukan oleh Clement dan Fahmagne (1986) yang menyatakan bahwa pengetahuan dunia dan gambaran mental berhubungan dengan penalaran logis. Pada dasarnya, peneliti mengubah-ubah tingkat gambaran dari istilah-istilah dan keterkaitannya dengan premis bersyarat dalam silogisme.
Isi, karena bisa mempertahankan bentuk argument sambil mengubah-ubah isinya, yang belakangan juga telah menjadi alat yang berguna dalam analisis proses penalaran. Jika premis dari silogisme-silogisme benar, maka kesimpulannya juga benar, walaupun suatu kesimpulan mungkin lebih sulit diterima daripada kesimpulan yang lain. Pengaruh isi atas keabsahan suatu argumen mengingatkan kita bahwa proses kognitif tidaklah sederhana dan tidak mengesampingkan dampak pengetahuan yang tersimpan dalam memori jangka panjang.
3.      Pengambilan Keputusan
       Penalaran Induktif
       Salah satu bentuk lain dari penalaran disebut penalaran induktif. Dalam penalaran induktif, sebuah kesimpulan biasaya dinyatakan secara implisit atau eksplisit dalam konteks pernyataan kemungkinan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasa membuat keputusan yang tidak terlalu mencerminkan hasil paradigma silogistik yang sudah dipikirkan baik-baik, tapi dalam konteks induktif, yang keputusannya berdasarkan masa lalu dan ksimpulannya berdasarkanyang dirasa sebagai pilihan terbaik dari sejumlah alternative.
       Induksi dalam logika proses penalaran dari khusus ke umum. Francis Bacon mengajukan induksi sebagai logika penemuan ilmiah dan deduksi sebagai logika argumentasi. Sebenarnya, kedua proses ini digunakan bersama secara teratur dalam ilmu empiric, dengan pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa tertentu atau induksi dan dari prinsi-prinsip yang sudah diketahui atau deduksi, prinsip hipotesis baru kemudian dirumuskan dan hukum dimunculkan.
  Pengambilan Keputusan dalam Kehidupan Nyata
Dialog Penalaran¸salah satu argument bisa diuraikan adalah dengan mengindentifikasikan komponen structural pokok seperti yang dilakukan oleh RIPS dan Koleganya ( RIPS 1998; RIPS, Brem, Baylenson, 1999). Komponen dialog dari argumentative terdiri dari tuntutan kadang-kadang diikuti oleh kelonggaran, permitaan atas dasar kebenaran atau penyangkalan; penyangkalan bisa diikuti oleh kelonggaran atau sangkalan tandingan, dll
     Buah Pikiran yang Keliru dari Reifikakasi, Reifikasi suatu ide artinya menganggap bahwa ide itu nyata ketika sebenarnya ide itu bersifat hipotetis atau metafora.
Argumen Ad Hominem, argument Ad Hominem adalah argument yang menyerang karakter dan bukan isi argumennya. Yang berkaitan dengan argument Ad Hominem adalah argument yang disahkan berdasarkan pengalaman seseorang atau pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman seseorang.
Argumen yang Menggunakan Paksaan dan Kekuatan, kekuatan dan moralitas mungkin bagus, tapi tidak ada hubungannya dengan perjanjian dan hak suatu bangsa atas kedaulatan. Meskipun demikian, sungguh “manusiawi” untuk mengajukan argument semacam itu.
Menggunakan Kekuasaan dan Ketenaran, praktek ini biasa dijumpai diantara para pembuat iklan.
Argumen Mayoritas Pasti Benar, argumennya adalah jika kebanyakan orang melakukan sesuatu, hal itu pasti benar.
Argumen Manusia Jerami, argumen manusia jerami artinya membangun suatu argumen yang leamah dan menghubungkannya dengan orang lain sehingga anda bisa mengalahkannya. Karakteristik argumen manusia jerami yaitu sebuah ciri yang mencolok ( meskipun sangat tidak penting) difokuskan dan dipentingkan untuk mengalihkan tujuan utama argument.
Dukungan Neurosains Kognitif
Studi ilmiah mengenai hubungan antara otak disatu sisi dan penalaran serta pemikiran disisi lain sudah sejak dulu menjadi wilayah ahli saraf (yang berkonsentrasi pada pasien dengan beragam masalah saraf) dan, baru belakangan, ahli neuropsikologi kognitif (yang berkonsentrasi pada studi pengambaran dengan partisipan normal).
Kerangka Keputusan
Kerangka Keputusan merupakan konsepsi tindakan, hasil keluaran, serta kontigensi pembuat keputusan yang diasosiasikan dengan pilihan-pilihan tertentu. Sebuah kerangka diadopsi oleh seseorang saat akan membuat keputusan, dikendalikan oleh permulasi masalah serta norma, kebiasaan, dan karakteristik personal dari individu tersebut. Para peneliti telah mendemontrasikan secara jelas kuatnya sebuah kerangka dalam menentukan kesimpulan yang dicapai individu dengan fakta-fakta yang diberikan kepadanya, tetapi dalam konteks yang berbeda.

Mengukur Kemungkinan/Probabilitas
Dalam beberapa hal, probabilitas suatu peristiwa dapat dikalkulasikan dengan matematika. Sementara kejadian-kejadian lain ditentukan hanya dengan pengalaman kita sebelumnya. Pada serangkaian studi, Tvresky dan Kahnerman (Kahneman, 1973; Tvresky & Kahnerman, 1981) memeriksa orang-orang yang terkadang berakhir dengan kesimpulan yang buruk ketika keputusan mereka yang didasarkan pada pengalaman masa lalu.
Heuristik Keterwakilan (Representativiness Heuristic)
Mengukur probabilitas peluang sebuah kejadian dipengaruhi tidak hanya oleh ketersidaan (Availibility) kejadian tersebut, namun juga besarnya keterwakilan keterjadian dalam hubungan dengan seberapa sama kejadian tersebut dengan ciri esensial populasinya.
Teorema Bayes dan Pengambilan Keputusan
Sebuah model matematika yang menyediakan metode untuk mengevaluasi hipotesis perubahan nilai probabilitas ini disebut Teorema Bayes sesuai dengan penemunya, Thomas Bayes, ahli matematika di abad ke 18.
Probabilitas Kondisional(peluang yang terkondisikan)—peluang informasi baru adalah benar apabila hipotesis-hipotesis tertentu benar.
Beberapa bukti yang dikumpulkan oleh Edward (1968) yang mengatakan bahwa kita cenderung untuk menduga kemungkinan kondisi lingkungan yang lebih konservatif daripada teori Bayes. Pada salah satu penelitian mengenai dampak informasi baru terhadap estimasi kemungkinan yang diputuskan oleh partisipan.
Ketertarikan pada metode Bayes telah bertambah selama beberapa tahun (Melakoff, 1999). Satu alas an bertambah banyaknya penelitian adalah populernya desktop computer dan perkembangan algoritma baru. Beberapa telah menggunakan simulasi tekhnologi yang dikenal dengan Markoff Chain Monte Carlo (dikenal sebagai MCMC bagi praktisi) yang menggunakan konsep matematis Bayes dalam memanfaatkan pengetahuan sebelumnya dalam memprediksi segala sesuatu, dari resonansi inti magnet hingga siapa yang mungkin menjadi tersangka pada kasus terminal. Penggunaan yang belakangan ini telah dipertanyakan karena mengandung “Riwayat Rasial”.

4.      Pembuatan Keputusan dan Rasionalitas
Bab ini nampaknya mempresentasikan manusia sebagai makhluk yang paling rasional. Diskusi kita tentang pembentukan konsep akhirnya menunjukkan bahwa keseluruhan makhluk hidup membentuk konsep menggunakan ketentuan rasional. Pada diskusi pemikiran silogisme, kita belajar bahwa paliditas sebuah argumen  dapat ditentukan olleh ketentuan logis, bahwa jika kita dikelabui oleh salah satu dari struktur atau isi dari argument yang salah. Akhirnya, menurut subbab pengambilan keputusan, kita belajar bahwa kaum manusia yang “ rasional” pada umumnya bertindak irasional ketika mengambil keputusan tentang sekumpulan kejadian yang benar, kita berpikir bahwa akan menjadi bodoh untuk mendebatkan apakah benar orang lain sama rasionalnya seperti kita memperlakukan diri kita, tapi apa benar demikian diri kita, sebagai spesies, dengan kesimpulan yang begitu irasionalnya berdasakan kumpulan hasil yang empiris dari tugas-tugas pengambilan keputusan ?
Penemuan dari Tveresky dan Kahman, sejalan dengan penelitian mengenai pemikiran silogisme, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir rasional secara sempurna, beberapa kalangan telah menyangkal penemuan ini atas dasar rancangan eksperimen dan kesimpulan filosofi pasti yang dipaksakan oleh eksperimen ini. Kritik dari L.G Cohen (1981), dari universitas Oxford, yang memperdebatkan bahwa (1) rasionalitas seharusnya ditentukan oleh orang-orang yang pada umumnya, bukan menurut penyusunan eksperimen laboratorium yang tidak dibuat untuk mengilustrasikan pengambilan keputusan setiap hari dan tidak relavan pada tampilan kenyataannya. (2) tidak beralasan bahwa orang biasa diharapkan menjadi ahli dalam bidang hukum kemungkinan hukum dan statistika yang menjadi dasar dan batas dari penyimpangan bebrapa percobaan. (3) hukum system logis dan rasionalitas tidak relavan dengan prilaku manusia sehari-hari. Ambillah kasus individu yang tidak beruntung pada percobaan menghindari mantannya menggunakan teori Bayes, kemungkinan dari pertemuan dengan orang yang ingin dihindari pesta adalah 0,32. Bagaimana dengan perilaku individu yang melakukan penghindaran ? jika permusuhan antar pasangan tersebut jelas (saya tidak mau sedekat  sampai 100 mil dari dia), bilangan tidak memiliki kemampuan sejauh ini sebagai perilaku.


Su At Kiply

Nama: Su At Kiply
NIM: 16410235
PROBLEM SOLVING AND DECISION MAKING
(Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan)
Problem Solving
Problem solving is a direct-directed thinking to find a solution to a specific problem. We find problems in our daily lives, so we will create a way to respond, choose, and test the responses we get to solve a problem.
Cognitive psychologists focus on defining cognitive processes that belong to internal representation. Recently there is research that is able to define the cognitive structure systematically associated with problem-solving activities. A model that can describe the relationship between the memory structure and the semantic network during the troubleshooting process.
Creativity
Often, we assume that most people are creative only in certain areas. Actually, there are other kinds of creativity in human beings, but often we do not realize and do not know it. Creativity is a cognitive activity that produces a new view of a problem and is not limited to results that are always viewed according to their usefulness. Based on the history of cognitive psychology, Wallas (1926) explains that there are 4 stages in the creative process:
·         Preparation. Formulate a problem and make an initial effort to solve it.
·         Incubation. A period in which no effort is made directly to solve problems and attention is diverted for a moment on another.
·         Illumination. Gain insight (deep experience) of the problem.
·         Verification. Test the understanding that has been obtained and make the solution.
Human Intelligence
Due to the wide use of the word intelligence, psychologists disagree on one definition only. However, the core of this topic is a higher form of cognition such as concept formation, reasoning, problem solving, creativity, and memories and perceptions associated with human intelligence.
The studies that cognitive psychologists have done about human intelligence are about the speed of information processing, general knowledge, reasoning, and problem solving. Psychologists who examine human intelligence in relation to reasoning and problem solving propound theories of intelligence in three ways include,
·         Component intelligence behavior. People with this type of intelligence generally get through the tests well and become the best in the test. They can comment on the work of others well, also have high analytical thinking skills.
·         Behavior of experiential intelligence. People with this type of intelligence may not get high IQ scores, but they are creative. In general, their ability can lead to success in various fields, be it business, medical and carpentry.
·         Contextual intelligence behavior. This type of intelligence is the most important tool in everyday interactions, both within the slum and the boardroom.
Decision Making
Inductive Reasoning
In inductive reasoning, a conclusion is expressed explicitly or implicitly through a statement whose nature of truth is not absolutely, but a possibility. Inductive reasoning differs from the decisions we make by not paying too much attention to the well-thought out syllogistic paradigm. In inductive reasoning, the decisions we take are based on the past and the conclusions drawn from what we feel is the best choice of a number of alternatives. In making decisions based on inductive reasoning, we choose alternatives by eliminating less attractive choices gradually. We will eliminate the less attractive alternatives based on the evaluation of the attributes or aspects of the alternatives. If there are alternatives that do not have a minimum standard that we agree on, then those alternatives are eliminated from the set of options available.
Decision Making in Real Life
In real life, we use a lot of reasoning dialogue in daily decision-making. In this logic of reasoning, there are arguments that are thrown into the reference or benchmark in making a decision. One way an argument can be described is by identifying the principal structural components shown in the argumentative dialogue by Rips et al (1999). Components of argumentative dialogue consist of demands, sometimes followed by leeway, demand on the basis of truth, or denial, etc.
The False Mind of Reification
Assume that an idea is real when it is a hypothetical or metaphorical idea.
·         Arguments Ad Hominem: Arguments that attack a person's character. Not the content of the argument itself.
·         Arguments That Use Coercion and Strength: Arguments based on something that has nothing to do with or relation to that argument but is justified because of the imposed and powerful extra element.
·         Using Power and Fame: Arguments are made by people who basically have a big influence in people's lives because of power and fame.
·         Majority-Absolute Argument: Arguments are assumed to be true if the majority of people claim it, and ultimately it is considered true.

·         Straw Man's Argument: It means building a weak argument and connecting it with others so that it can be defeated. This argument is focused and important to divert the main purpose of the argument.